Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka eskpor untuk produk-produk asal Indonesia ke Amerika Serikat (AS) di Oktober 2016 tembus di angka 12,89 miliar dollar. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 12,12 persen bila dibandingkan dengan pencapian di September 2016.
Pemilih ini adalah pemilih kelas pekerja yang terpikat oleh gaya retorik populis Trump yang mengecam globalisasi dan perdagangan bebas. Faktor itu yang diyakini mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan, terutama di sektor manufaktur yang dialihdayakan ke luar AS. Demografi pemilih ini kebanyakan tinggal di kota kecil dan daerah pertanian.
"Paling besar ekspor kita ke AS, sebesar 12,89 miliar dollar atau meningkat 12,12 persen," ujar Suhariyanto di Jakarta, Selasa (15/11/2016). Adapun produk-produk ekspor asal Indonesia yang berhasil menembus pasar AS diantaranya lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, perhiasan, mesin-mesin pesawat mekanik, alas kaki, pakaian jadi.
Suhariyanto berharap, dengan terpilihnya Donald Trump sebagai orang nomor satu di AS, tidak mengurangi volume ekspor produk-produk asal Indonesia ke AS yang tengah mengalami kenaikan. "Mudah-mudahan dengan pergantian Presiden AS tidak ada pengaruhnya ke ekspor Indonesia," tutur Suhariyanto.
Sekadar informasi, Trump membuat shock pendukung Hillary Clinton, kandidat presiden dari partai Demokrat, dengan meraih kemenangan meyakinkan di Wisconsin dan Pennsylvania yang selalu memilih capres Demokrat sejak Pilpres AS 1988.
Revolusi "Rust Belt" untuk Kemenangan Trump yang menjadi simbol terjadinya Revolusi Pekerja Berkerah Biru ("Blue Collar") ironisnya berbasis di “Blue Firewall” milik Hillary, yaitu di Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan. Negara bagian yang sering disebut "Rust Belt States" ini didominasi oleh pemilih berkulit putih berkerah biru yang kebanyakan tidak berpendidikan ke jenjang universitas.
Ekspor Meningkat, Nilai Perdagangan Oktober Surplus US$ 121 Juta | Equityworld Futures
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, transaksi perdagangan Indonesia pada Oktober 2016 mengalami surplus US$ 1,21 juta. Angka ini selisih nilai ekspor Oktober sebesar US$ 12,68 miliar dan impor yang mencapai US$ 11,47 miliar.
Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Oktober 2016 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 8,60 persen dan 11,80 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 13,75 persen.
"Nilai ekspor Indonesia Oktober 2016 meningkat 0,88 persen dibanding ekspor September 2016. Demikian juga dibanding Oktober 2015 meningkat 4,60 persen," tulis keterangan resmi BPS yang dipublikasikan, Selasa (15/11).
Sementara ekspor nonmigas Oktober 2016 mencapai US$ 11,65 miliar, naik 1,22 persen dibanding September 2016, sementara dibanding ekspor Oktober 2015 naik 8,43 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2016 mencapai US$ 117,09 miliar atau menurun 8,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 106,37 miliar atau menurun 4,65 persen.
Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari–Oktober 2016 adalah Tiongkok dengan nilai US$ 24,48 miliar (25,80 persen), Jepang US$ 10,64 miliar (11,21 persen), dan Thailand US$ 7,30 miliar (7,69 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,77 persen, sementara dari Uni Eropa 9,19 persen.
Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Oktober 2016 terhadap September 2016 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 287,1 juta (19,02 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 158,8 juta (37,28 persen).
Ekspor nonmigas ke Tiongkok Oktober 2016 mencapai angka terbesar yaitu US$ 1,68 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,30 miliar dan Jepang US$ 1,14 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,37 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,22 miliar. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Oktober 2016 turun 2,59 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 14,30 persen, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 13,81 persen.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Oktober 2016 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 21,06 miliar (17,98 persen), diikuti Jawa Timur US$ 15,34 miliar (13,10 persen) dan Kalimantan Timur US$ 11,20 miliar (9,57 persen). Adapun nilai impor Indonesia Oktober 2016 mencapai US$ 11,47 miliar atau naik 1,55 persen apabila dibandingkan September 2016, demikian pula jika dibandingkan Oktober 2015 naik 3,27 persen.
Impor nonmigas Oktober 2016 mencapai US$ 9,94 miliar atau naik 4,27 persen jika dibandingkan September 2016. Demikian pula apabila dibandingkan Oktober 2015 naik 6,33 persen. Impor migas Oktober 2016 mencapai US$ 1,53 miliar atau turun 13,13 persen jika dibandingkan September 2016, demikian pula apabila dibandingkan Oktober 2015 turun 12,97 persen.
Secara kumulatif nilai impor Januari–Oktober 2016 mencapai US$ 110,17 miliar atau turun 7,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Kumulatif nilai impor terdiri dari impor migas US$ 15,30 miliar (turun 27,73 persen) dan nonmigas US$ 94,86 miliar (turun 3,12 persen). Peningkatan impor nonmigas terbesar Oktober 2016 adalah golongan mesin dan peralatan listrik US$ 80,9 juta (6,25 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan serealia US$ 53,8 juta (22,19 persen).
Sepanjang Oktober, Rupiah Melemah 0,44 Persen | Equityworld Futures
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rupiah terdepresiasi (melemah) 0,44 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Oktober 2016.
Rupiah terapresiasi 2,40 persen terhadap euro pada Oktober 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap euro terjadi pada minggu keempat Oktober 2016 yang mencapai Rp 14.154,05. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Sumatera Barat yang mencapai Rp 13.950,00 per euro pada minggu keempat Oktober 2016.
"Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Amerika terjadi pada minggu ketiga Oktober 2016 yang mencapai Rp 13.008,52 per dolar Amerika," kata keterangan resmi BPS yang dipublikasikan, Selasa (15/11). Sedangkan menurut provinsi, kata BPS, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mencapai Rp 13.300 per dolar Amerika pada minggu pertama Oktober 2016.
Adapun terhadap dolar Australia, rupiah terdepresiasi 0,48 persen pada Oktober 2016. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar Australia terjadi pada minggu ketiga Oktober 2016 yang mencapai Rp 9.942,27 per dolar Australia. "Sedangkan menurut provinsi, level terendah kurs tengah terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang mencapai Rp 10.045,50 per dolar Australia pada minggu ketiga Oktober 2016," kata dia.
Sementara terhadap yen Jepang, rupiah terapresiasi (menguat) 2,99 persen pada Oktober 2016. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap yen Jepang terjadi pada minggu keempat Oktober 2016 yang mencapai Rp 124,32 per yen Jepang. Sedangkan menurut provinsi, level tertinggi kurs tengah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp 117,50 per yen Jepang pada minggu keempat Oktober 2016.